jump to navigation

Jaringan Pendidikan Masyarakat Mei 5, 2008

Posted by lulamontes in Uncategorized.
trackback

Artikel

 JARINGAN PENDIDIKAN MASYARAKAT  (Penciptaan Situasi Kondusif Pembelajaran) 

Oleh: Lula Montes

 A.   Jaringan Pendidikan Masyarakat: Pembentukan Karakter Masyarakat Pembelajar?

Pemikiran mengenai suatu bentuk Jaringan Pendidikan Masyarakat; pada prinsipnya mengadopsi filosofis dari pembentukan karakter (character building) masyarakat dalam paradigma baru pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development). Format utama dalam pembentukan karakter adalah mengkondisikan semua komponen dari yang terkecil (individu) sampai yang terbesar (masyarakat) kedalam proses pembiasaan untuk selalu bersinergi dalam mencapai tujuan. Perlu diingat, bahwa paradigma baru pembangunan Indonesia adalah pembangunan multidimensi yang sadar bahwa setiap dimensi pembangunan sama penting, dan harus dibangun secara bersama-sama, termasuk dimensi pendidikan. Pada titik ini dapat dikatakan bahwa baik  Jaringan Pendidikan masyarakat maupun Pembangunan Berkelanjutan essensinya sama-sama menciptakan proses pembiasaan untuk bersinergi. Dengan demikian sangat masuk akal jika pembentukan Jaringan Pendidikan Masyarakat dimulai dari mengadopsi langkah-langkah pembentukan karakter dalam pembangunan berkelanjutan.

Membentuk karakter harus dimulai dari setiap individu. Yang bagus untuk direkomendasikan dalam konteks pendidikan adalah dengan mengacu kepada pemikiran Stephen R Covey yang dikemukakan dalam bukunya, The Seven Habits of Highly Effective People (1990), yaitu:

a. Private Victory, dengan melakukan:

  • Bertindak proaktif
  • Belajar bersasaran
  • Belajar dengan urutan prioritas

b. Public Victory

  • Berfikir dan berperilaku menang-menang (win-win solution) terhadap orang lain.
  • Mengerti orang lain lebih dulu, sebelum minta dimengerti
  • Berfikir dan bertindak sinergik, yaitu menyatukan kekuatan diri dengan kekuatan orang lain, yang akan menghasilkan kekuatan berlipat ganda.
  • Pengulangan kebiasaan pertama hingga keenam dengan kualitas dan target yang lebih tinggi, dan dengan skala yang lebih luas.

Karakter individu dan masyarakat merupakan modal terpenting sebagai landasan dan fondasi dalam pembentukan Jaringan Pendidikan Masyarakat. Karena landasan utamanya adalah karakter masyarakat maka Jaringan Pendidikan Masyarakat ini seharusnya bukan merupakan suatu lembaga/atau organisasi struktural. Penulis berpendapat bahwa jaringan pendidikan masyarakat ini sebaiknya terbentuk secara alamiah, sebagai akibat dari budaya dan karakter masyarakat pembelajar.

Dengan pemahaman itu maka dapat didefinisikan bahwa yang dimaksud Jaringan Pendidikan Masyarakat adalah lebih merupakan suatu budaya dimana masyarakat dari segala status sosial, usia, jenis kelamin dan lain-lain, akan berinteraksi; saling berkomunikasi, saling berbagi informasi, dalam kerangka proses pembelajaran. Ini adalah karakter baru yang ideal masyarakat Indonesia dimasa kini; yaitu masyarakat pembelajar, masyarakat yang berinteraksi membagi informasi dimana saja kapan saja, dengan siapa saja; diluar batasan usia, status sosial, jenis kelamin, etnis, dan lain lain.

B.   Kondisi Ideal: Masyarakat Pembelajar 

Kondisi ideal proses pendidikan akan terwujud jika budaya masyarakat pembelajar sudah terbentuk dan manjadi bagian dari karakter baru masyarakat Indonesia, secara ideal proses pembelajaran: bahwa pada  pelaksanaan kegiatan belajar seseorang individu mungkin akan memainkan multiperan dalam satu hari kerja. Artinya seseorang akan memerlukan belajar dari rumah, tempat kerja atau ketika berada di kendaraan umum, disisi lain seorang peserta didik juga melakukan aktivitas yang sama, disamping aktivitas belajar yang mereka lakukan di sekolah formal, peserta didik juga akan melakukan peran belajar dimana saja mereka akan membutuhkan: (1) akses ke informasi/ internet (searching, downloading), (2) pemilihan, penyimpanan dan editing kembali informasi, (3) komunikasi langsung dengan instruktur, kolega dan pelajar lain, (4) penyatuan bahan yang diakses ke dalam dokumen kerja, (5) membagi informasi/dokumen dengan orang lain.

Kondisi ini akan sangat ideal jika didukung oleh pendekatan pembelajaran accelerated learning serta penggunaan secara optimum pembelajaran berbasis komputer, disinilah letak benang merah dari Pembangunan Masyarakat berpengetahuan, Jaringan Pendidikan Masyarakat, Pendekatan Pembelajaran Dipercepat (accelerated learning) dan Pembelajaran Berbasis Komputer (E-Learning) dalam kerangka pembangunan berkelanjutan (sustainable development) yang telah menjadi kebijakan serta paradigma baru pembangunan nasional kita.

Bahan Bacaan:

Stephen R Covey. The Seven Habits of Highly Effective People, 1990.

Dryden, Gordon, Jeannette Vos, Revolusi Cara Belajar (The Learning Revolution) Kaifa, 2001

  

 

About these ads

Komentar»

No comments yet — be the first.

Berikan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: